Prediksi Piala Dunia Persaingan Juventus vs Torino

Persaingan Juventus vs Torino

Persaingan Juventus vs Torino

Prediksi Piala Dunia – Dengan Torino beberapa tahun terakhir cenderung seperti yoyo, naik turun antara Serie A dan B, pertandingan antar kedua klub jadi lebih jarang terjadi daripada era 60an 70an dan 80an di mana kedua klub benar-benar sedang jaya. Akibatnya, para fans kedua klub lebih menikmati derby yang musim berikutnya belum tentu bisa ditonton.

Pada tahun 1988, Juve dan Torino bersaing ketat, menempati peringkat enam dengan 31 poin dan harus memperebutkan tiket Piala UEFA melalui play-off. Kedua sisi tifosi menunjukkan penampilan terbaiknya dalam mendukung tim kesayangan mereka dan pertarungan di lapangan tidak kalah ketat. Akhirnya, tidak ada yang bisa mengalahkan lawannya dan tiket pun diperebutkan via adu penalti, di mana Juve berhasil menang 4-2 dan lolos ke Eropa.

Empat tahun sebelumnya, derby Turin lain yang dihelat menghasilkan skor yang berbeda. Saat itu keduanya bertemu di Serie A, Juventus sebagai tuan rumah tampaknya akan dengan mudah menang, unggul dua gol sebelum waktu normal usai. Namun pemain Torino yang merupakan fans fanatik klubnya saat kecil Beppe Dossena melepaskan tendangan kuat yang gagal dibendung kiper Juve Dino Zoff. Gol. Semangatnya pun menyebar ke rekan-rekan setimnya yang berhasil mencetak gol lagi sebelum menit 90, dan mencetak gol kemenangan di masa injury time.

Selama laga antar kedua klub juga sering ada momen panas di luar lapangan antara suporter kedua tim. Kecelakaan pesawat Superga pada Mei 1949 yang membunuh seluruh skuad Torino dan banyak penumpang lain merupakan tragedi besar dan salah satu hari paling menyedihkan dalam sejarah calcio. Sayangnya untuk Granata, fans Juve sering menggunakan tragedi itu untuk mengejek rival mereka. Setiap pembawa acara di stadion memanggil nama-nama skuad Torino, pendukung Juve akan melebarkan tangan mereka, mendengung dan bergoyang meniru pesawat terbang, dan saat semua selesai dipanggil, mereka akan berteriak bersamaan ”Boom! Superga!” membuat tifosi Torino jijik.

Sebagai balasan bagi Juventini, fans fanatik Torino mengangkat tragedi Heysel pada final Piala Eropa 1985 saat Juventus bertemu Liverpool di mana fans klub Inggris itu mendorong tembok stadion yang kemudian roboh menimpa fans Juventus. 39 orang mati dalam tragedi itu, namun fans Torino yang dendam pun menggunakannya untuk membalas Juventini. Dalam derby berikut-berikutnya mereka terdengar menyanyi ”Grazie Liverpool” dan ”Beri kami Heysel lain”. Faktanya, sebuah lagu bahkan digubah untuk mengingat kejadian itu dengan judulnya kira-kira bila diterjemahkan ”39 terpendam, jaya terus Inggris”. Beberapa pemain kedua klub sampai ikut terprovokasi. Pada laga tahun 2002, pemain tengah Juventus mencetak gol yang membuat kedudukan berakhir seimbang dan merayakannya dengan berlari mengelilingi lapangan dengan jarinya menunjuk di atas kepala meniru banteng yang jadi simbol Torino untuk mengejek mereka.

Saat Genoa yang merupakan sahabat Torino menjamu Juventus, pendukungnya biasa menggelar spanduk bertulis ”Kalian menertawakan kematian Grande Torino hingga tembok itu runtuh”. Tidak hanya suporter Genoa yang ikut-ikutan dalam rivalitas mereka, Romanisti malah memprovokasi suporter kedua klub saat beberapa oknum menyanyikan chant dan spanduk bertuliskan ”Kami berharap Superga hitam putih”. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh derby ini tidak hanya di kotanya namun seluruh Italia dan bisa menyulut emosi di antara pendukung kedua klub. Rivalitas pertandingan ini gemanya jauh lebih luar dari kota Turin, menjanjikan laga-laga panas akan terus tersaji di masa depan. Prediksi Piala Dunia